Intravenous immunoglobulin (IVIg)

Berikut beberapa informasi tentang IVIg atau biasa dikenal dengan infus IVIg

Apa itu IVIg?

Cairan infus yang berisi immunoglobulin G dan dipisahkan dari serum manusia. Secara umum, indikasi penggunaannya untuk penyakit-penyakit autoimmune seperti Kawasaki’s desease, SLE, serta masalah autoimun pada kehamilan dan infertilitas

Manfaat IVIg pada masalah infertilitas

Sebagai imunoterapi pasif dengan :
1. menurunkan ASA (Anti-Sperm Antibody) dengan cepat.
2. Menekan inflamasi untuk mempermudah implantasi
3. Menurunkan antibodi anti phospholipid pada APS

Kapan IVIg digunakan?

Pemberian IVIg disesuaikan dengan tujuan penggunaanya. Secara garis besar IVIG dapat diberikan:
Sebelum dilakukan IVF untuk program hamil.
Untuk penurunan ASA pada istri pasangan infertil yang tergolong “unexplained Infertility”
Pada riwayat kehamilan tidak berkembang dan BO akibat proses angiogenesis dan aliran darah terganggu
Pada wanita hamil dengan riwayat keguguran berulang akibat gangguan implantasi karena APS

Imunologi Reproduksi

Dengan berkembangnya penelitian di bidang reproduksi, diketahui 5-15% unexplained infertility (infertilitas yang belum diketahui penyebabnya) disebabkan oleh masalah imunologis. Sebab-sebab imunologis yang telah diketahui antara lain adanya antibodi terhadap sperma. Antibodi anti-sperma, pada sebagian besar kasus, merupakan reaksi yang dibentuk istri terhadap sperma suami sehingga sulit terjadi pembuahan. Namun, pada sebagian kecil kasus, tubuh suami sendiri menghasilkan antibodi terhadap spermanya. Hal tersebut menyebabkan matinya semua sperma/azoospermia. Selain faktor imunologis, faktor lain yang berperan ialah genetik.

Faktor genetik
Kelainan gen pada kromosom Y dapat mengganggu pembentukan sperma. Kromosom Y yang mengalami delesi pada lengan panjang menyebabkan gangguan produksi sperma sehingga terjadi oligospermia (jumlah sperma sedikit, kurang dari 20 juta spermal/ml) atau azoospermia (tidak ada sperma). Selain itu, dapat pula terjadi kelainan pada gen porin, yaitu gen yang mengatur penyaluran energi ATP. Dengan terganggunya penyaluran energi, maka terjadi gangguan pergerakan pada sperma sehingga mengalami kesulitan untuk membuahi sel telur. Kelainan pada gen juga dapat menyebabkan penyumbatan saluran sperma dan mengakibatkan kista.

Faktor imunologis.
Dalam menjalankan fungsinya, sistem reproduksi melibatkan mekanisme imunologi/kekebalan. Sudah lama diketahui, pada perempuan, mekanisme kekebalan tersebut berperan penting dalam melindungi janin. Dengan adanya sistem kekebalan, proses perkembangan janin dapat berlangsung dengan baik serta terlindungi dari berbagai infeksi. Di samping itu, dalam keadaan normal, setiap wanita yang pernah terpapar sperma akan membentuk antibodi terhadap sperma. Hal tersebut wajar sebab tidak ada wanita yang menghasilkan sperma sehingga sperma dianggap sebagai zat baru/benda asing layaknya bakteri, virus, jamur, dan kuman lainnya yang harus dilawan. Antibodi tersebut disebut Antibodi Anti-Sperma (ASA = Anti-Sperm Antibody). Tetapi pada beberapa perempuan, kekebalan tubuhnya sangat tinggi hingga membentuk ASA dalam jumlah yang sangat besar.
Pada tingkat yang tidak terlalu tinggi (tingkat yang wajar), dengan kualitas sperma yang baik, maka kehamilan sangat mungkin terjadi. Namun demikian, bila kadar ASA terlalu tinggi, dengan kualitas sperma yang sangat baik pun sulit sekali terjadi kehamilan. Untuk mengatasi hal tersebut, dapat dilakukan berbagai terapi , antara lain dengan pemakaian kondom, pemberian obat imunosupresif ataupun terapi imunoseluler.
Pada terapi kondom, suami istri memakai kondom saat berhubungan seksual selama kurang lebih 3-6 bulan. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah terpaparnya tubuh istri dengan sperma sehingga tidak membentuk antibodi anti-sperma. Terapi tersebut banyak menuai protes dari kalangan suami karena jangka terapi yang lama serta berkurangnya kenikmatan berhubungan.
Di samping terapi kondom, dapat pula diberikan obat-obatan imunosupresif, seperti golongan kortikosteroid. Obat-obat tersebut bertujuan menekan sistem kekebalan tubuh istri dengan harapan walau terpapar sperma, tubuh istri tidak membentuk antibodi anti-sperma. Walaupun demikian, kerja obat-obat tersebut bersifat global. Artinya, respon imun istri akan ditekan secara menyeluruh termasuk terhadap bakteri, virus, parasit. Hal tersebut menyebabkan istri lebih mudah sakit.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, telah dikembangkan terapi imunoseluler, yakni PLI (Paternal Leukocyte immunization). PLI berkerja spesifik hanya menurunkan antibodi anti-sperma sehingga wanita yang menjalani terapi tersebut tetap mampu menghasilkan kekebalan terhadap virus, bakter, parasit, dll. Selain itu, PLI bekerja optimal sehingga walaupun terpapar sperma, efek PLI tetap lebih kuat. Namun demikian, menghindari paparan terhadap sperma dapat membantu menurunkan kadar ASA lebih cepat.