Imunoterapi Leukocyte Dapat Meningkatkan Keberhasilan Program IVF/ICSI (Bayi Tabung)

Saat ini, penelitian tentang metoda dan terapi untuk mengatasi infertilitas seperti keberhasilan bayi tabung terus berlangsung. Sebagaimana diketahui banyak faktor yang dapat menyebabkan kasus infertilitas, salah satunya adalah faktor imunologis.

Sebuah penilitian yang dilakukan oleh C. Kling, J. Magez-Zunker, S. Jenisch, D. Kabelitz dari Institut für Immunologie, Universitätsklinikum Kiel German pada tahun 2002, menemukan bahwa faktor imunologis berperan pada kegagalan implantasi pada in-vitro-vertilization (IVF/ICSI) yang lebih dikenal dengan bayi tabung. Terapi imunologi dengan menggunakan allogenic leucocytes immunization dapat menjadi salah satu opsi untuk mengatasi masalah tersebut. Berikut rangkuman dari hasil penelitian mereka.

Effect of Allogeneic Leukocyte Immunization on Consecutive IVF/ICSI-Treatment for Failure in the In-Vitro-Fertilization Program

C. Kling, J. Magez-Zunker, S. Jenisch, D. Kabelitz

Institut für Immunologie, Universitätsklinikum Kiel

Tujuan Penelitian
Mekanisme imunologi mungkin berkontribusi terhadap kegagalan implantasi dalam program in- vitro-fertilization ( IVF / ICSI ) . Imunoterapi berdasarkan imunisasi dengan leukosit alogenik mungkin menjadi pilihan terapi yang berharga dalam situasi ini . Di sini kami meringkas pengalaman kami yang luas dengan imunoterapi ini .

Bahan dan Metode
Analisis retrospektif dari semua pasangan yang dirujuk ke departemen pasien rawat jalan kami antara tahun 1996 hingga 1998 untuk imunoterapi setelah dua kali atau lebih mengalami kegagalan transfer embrio ( ET ). Sebanyak 686 pasangan ( 89 % ) melanjutkan program IVF / ICSI dan ditindaklanjuti selama 2 – 3 tahun .

Hasil Penelitian
Rata-rata pasien melakukan imunoterapi telah melakukan 3 – 4 IVF – ET pada usia 33 tahun dan menyelesaikan tindakan IVF / ICSI setelah melakukan 2 transfer: 2,6 embrio per ET dipindahkan (sesuai dengan undang-undang perlindungan embrio Jerman). Tingkat kelahiran kumulatif yang didapat adalah 38 % dengan IVF dan 42 % secara total jika yang mengalami kelahiran spontan juga dimasukkan. Sampai usia 36 tahun tingkat kehamilan dan kelahiran yang layak meningkat sebanyak 25% dalam 6 bulan pertama dibandingkan dengan tahun kedua ( 33,3 vs 27,4 % , 26,0 dibandingkan 16,7 % ) dan untuk IVF Registry Jerman 1998 . Peningkatan tersebut tampak jelas terutama bagi pasangan yang telah menjalani lebih dari tiga ET sebelum mandapatkan imunoterapi .

kesimpulan Penelitian
Data kami menunjukkan bahwa imunoterapi leukosit adalah terapi adjuvant berharga ketika 3 – 4 transfer IVF / ICSI telah gagal meskipun mengalami perkembangan embrio yang baik . Namun demikian, kemungkinan penyebab lain kegagalan IVF harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum melakukan imunoterapi leukosit.

Dari hasil penelitian tersebut dapat kita lihat bahwa imunoterapi leukosit dapat meningkatkan 38% keberhasilan kehamilan dari pasien yang telah mengalami 2-3 kali kegagalan bayi tabung. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa 4% dari pasien yang telah mengalami 2-3 kali kegagalan bayi tabung dapat mengalami kahamilan normal.

Hasil penelitian tersebut dapat di donwload disini

Kombinasi Antara PLI dan Infus IVIg Meningkatkan Tingkat Kelahiran Pada Wanita Dengan Riwayat Keguguran Berulang

Penelitian yang dilakukan oleh E Winger, J Reed, dan R Stricker dari Alan E. Beer Center for Reproductive Immunology and Genetics, Los Gatos, USA, menyimpulkan bahwa PLI / LIT dan IVIg meningkatkan tingkat kelahiran pada wanita dengan riwayat keguguran berulang. Berikut ringkasan dari hasil penelitian mereka yang telah di presentasikan pada kongres imunologi reproduksi ke 5 di Berlin, German, pada bulan September 2007.

Berikut ringkasan dari hasil penelitian tersebut.

MASALAH : LIT (Lymphocyte Immunization Therapy) telah digunakan selama lebih dari 30 tahun sebagai salah satu terapi untuk mengatasi keguguran berulang secara spontan (recurrent spontaneous abortion – RSA). Meskipun tealh digunakan diberbagai belahan dunia, masih banyak pertanyaan tentang efektifitas LIT untuk wanita dengan RSA primer dan wanita dengan RSA sekunder yang juga mendapat terapi anti-koagulan (AC) dan intravenous immunoglobulin (IVIG).

METODA : 115 kehamilan pada wanita dengan RSA secara dievaluasi secara retrospektif. Perempuan dikelompokkan sebagai aborters primer atau sekunder berdasarakan pernah atau tidaknya melahirkan sebelumnya. Semua wanita menerima pengobatan dengan anti-koagulan (AC) dan dievaluasi lebih lanjut dengan pemberian IVIG dan LIT. LIT diberikan di luar AS. Analisis statistik hasil kehamilan dilakukan dengan menggunakan metoda uji eksak Fisher.

HASIL : Pasien dalam enam kelompok tersebut memiliki karekteristik yang sama dalam hal usia, riwayat keguguran, mewarisi trombofilia dan autoimunitas. Hasil kehamilan ditunjukkan pada Tabel 1. Tingkat kelahiran hidup antara aborters berulang primer adalah sebagai berikut: menggunakan AC saja, 8% (1/12), menggunakan AC + IVIG, 56% (15/27), dan menggunakan AC + + IVIG LIT, 79% (11 / 14). Tingkat kelahiran hidup antara aborters berulang sekunder adalah sebagai berikut: menggunakan AC saja, 29% (4/14), menggunakan AC + IVIG, 54% (21/39): dan menggunakan AC + + IVIG LIT, 56% (5 / 9). Untuk kelompok aborter primer, penambahan baik IVIG atau IVIG + LIT ke rejimen AC menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam hasil kehamilan (p = 0,0116 dan p = 0,0005, masing-masing). Secara keseluruhan, penambahan IVIG atau IVIG + LIT ke kelompok pasient dengan anti-koagulan (AC) menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam tingkat keberhasilan kehamilan dibandingkan dengan pengobatan AC saja (p = 0,0024 dan p = 0,0005, masing-masing).

Live birth rates in women with recurrent spontaneous abortion (RSA)

Live birth rates in women with recurrent spontaneous abortion (RSA)

Lymphocyte Immunization Therapy (LIT) Combined with Intravenous Immunoglobulin (IVIG) Improves Live Birth Rates in Women with Primary Recurrent Spontaneous Abortion (RSA).”E Winger, J Reed, R Stricker. Alan E. Beer Center for Reproductive Immunology and Genetics, Los Gatos, USA.

Presented by the authors at the 5th European Congress of Reproductive Immunology in Berlin, Germany, August 30-September 2, 2007 

Hasil penelitian tersebut dapat di download di KLIK DISINI

Anak Saya Seakan-akan Tidak Pernah Lapar

Sering kali kita mendengar seorang anak sulit makan. Bahkan setelah seharian penuh tidak makan, tetapi tidak ada rasa lapar. Ada berbagai penyebab sulitnya seorang anak untuk makan makanan inti.

  1. Tidak lapar sebab kenyang dengan kemilan (kue, susu, cokelat, es krim)
  2. Terlalu sering diberi minuman manis (jus, teh manis, soft drink)
  3. Bosan dengan menu makananya atau rasa makananya
  4. Sakit gigi
  5. Sariawan
  6. Merasa makan itu buang-buang waktu atau wasting time
  7. Sedang alergi

Lazimnya seorang anak makan 3x sehari makanan inti dengan kandungan gizi yang lengkap dan seimbang. Waktu untuk mengkonsumsi makanan lengkap adalah saat dipagi hari, siang, dan malam hari. Bila diantara waktu-waktu makan tersebut anak diselingi dengan mengkonsumsi makanan dan atau minuman yang manis atau kaya akan lemak, maka sudah sewajarnya saat tiba waktunya makan, anak tidak merasa lapar sehingga menolak untuk makan

Ada dimana saja kah pelayanan khusus Imunologi Reproduksi?

Seiring dengan berkembangnya waktu dan pengetahuan tentang peran imunologi dalam reproduksi manusia terutama untuk kasus infertilitas, mulai banyak Rumah Sakit dan Klinik di dunia yang melakukan pelayanan imunologi reproduksi. Mulai dari yang hanya melakukan sebatas pemeriksaan — seperti test antibodi — sampai yang melakukan secara end-to-end (pemeriksaan dan terapi).

Meskipun demikian, hanya sedikit yang benar-benar mengkhususkan diri untuk melakukan pelayanan Imunologi Reproduksi. Kebanyakan dari RS dan Klinik hanya melakukan pelayanan Imunologi Reproduksi sebagai pelayanan tambahan dan hanya melakukan pelayanan Imunologi Reproduksi tingkat dasar. Hal ini dapat dimengerti, karena untuk melakukan pelayana Imunologi Reproduksi yang terpadu (end-to-end) diperlukan dokter yang juga ahli dibidang imunologi dan dokter yang memiliki keahlian ganda ini cukup jarang di dunia. Karena untuk menjadi seorang imunologist seseorang harus mampu memahami secara mendalam basic science — immunology, sangat berbeda dengan dokter yang lebih ke arah practical. Disamping bisa memahami basic science immunology dokter tersebut dituntut untuk bisa mengaplikasikanya kedalam bentuk pemeriksaan dan pengobatan yang bermanfaat untuk pasien — jadi tidak hanya sebatas penelitian di laboratorium.

Berikut ini beberapa tempat di dunia yang menyatakan secara khusus melakukan pelayanan Imunologi Reproduksi termasuk jenis pelayananya.

*Data yang ditunjukkan mungkin tidak mencover semua RS dan Klinik yang khusus melakukan pelayanan ImRep

Ternyata obat kanker yang ampuh itu ada pada tubuh pasien itu sendiri – Bagian 1

Tahukah anda bahwa penelitian terkini menyebutkan bahwa obat kanker yang paling ampuh ada pada tubuh pasien itu sendiri?

Seperti kita ketahui saat ini ada tiga jenis pengobatan kanker: operasi, kemoterapi, dan radiasi. Ketiga jenis pengobatan kanker tersebut telah terbukti sangat kuat namun sayangnya memiliki efek samping yang sangat besar dan menggaggu. Misalnya ikut terbunuhnya sel-sel yang sehat, rasa sakit, mual, dll. Hal ini diakibatkan karena pengobatan kanker saat ini tidak bisa membunuh sel kanker secara precise (tepat sasaran dan hanya membunuh sel kanker), bila diibaratkan seperti membakar lumbung untuk membunuh tikus.

Oleh karena itu, para pakar dunia kedokteran dan biologi melakukan riset selama puluhan tahun untuk mencari metoda lain pengobatan kanker yang lebih efektif, precise dan aman, dan tampaknya sudah membuahkan hasil, yaitu dengan imunoterapi. Imunoterapi adalah menggunakan sistem imun (kekebalan) tubuh untuk pengobatan penyakit — menggunakan sel-sel tubuh sendiri untuk melawan penyakit.

Peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang sistem imun tubuh memberi pencerahan kepada para pakar bahwa sistem imun tubuh manusia dapat dimanfaatkan untuk membunuh sel kanker itu sendiri, hanya saja harus dilakukan “modifikasi” dan “pengaktifan” kembali sistem imun tubuh, sehingga mampu mendeteksi dan membunuh sel kanker.

Penggunaan imunoterapi ini beberapa tahun belakangan menjadi polemik diantara para pakar karena ada yang setuju dan tidak setuju. Yang menjadi polemik adalah masih belum banyaknya data yang menunjukkan tingkat efektifitas imunoterapi untuk membunuh sel kanker dan tingkat keamanannya. Namun, dengan berjalanya waktu dan riset yang terus dilakukan, pengobatan kanker melalui imunoterapi ini mulai menunjukkan bukti keberhasilan dan keamananya. Pada tahun 2010, FDA (Food and Drugs Association), sebuah lembaga di Amerika yang mengontrol peredaran obat dan makanan, menyetujui penggunaan imunoterapi untuk pengobatan kanker prostat yang telah terbukti berhasil meningkatkan masa hidup dari pasien. Pada tahun 2011, FDA kembali menyetujui penggunaan imunoterapi untuk pengobatan kanker kulit melanoma.

Bersambung…

Kerusakan ringan DNA pada sperma: salah satu penyebab kehamilan tidak berkembang

Beberapa pusat pelayanan bayi tabung merilis tingkat keberhasilan bayi tabung berkisar antara 30-35% (dengan tingkat kegagalan 70% – 65%). Beberapa faktor penyebab kegagalanya antara lain karena sperma yang digunakan mengalami kerusakan DNA yang ringan.

Secara umum, kerusakan DNA pada sperma ini ada dua jenis yaitu kerusakan berat dan kerusakan ringan.

Sperma yang mengalami kerusakan DNA yang berat sangat mudah dideteksi (dengan mikroskop) karena akan terlihat dari bentuk fisik dan pergerakan yang tidak sempurna. Sperma dengan keruskan DNA berat ini sangat kecil kemungkinananya untuk dapat membuahi sel telur. Tentu saja sperma seperti ini tidak akan dipilih untuk program bayi tabung dan inseminasi.

Sedangkan sperma yang mengalami kerusakan DNA yang ringan memiliki bentuk fisik dan pergerakan sempurna — hampir tidak ada bedanya dengan sperma yang memiliki DNA yang sempurna. Sperma dengan kerusakan ringan DNA ini memiliki kemampuan untuk membuahi sel telur — sehingga bisa terjadi kehamilan. Namun, biasanya dikemudian hari kehamilan tidak berkembang dengan baik bahkan bisa sampai terjadi keguguran. Hal inilah yang terkadang sering luput dari perhatian ketika memilih sperma untuk melakukan program bayi tabung maupun inseminasi.

Bagaimana cara mendeteksi sperma dengan kerusakan DNA ringan? Saat ini sudah ada teknologi untuk melakukanya — dinamakan dengan Halo sperm test. Dengan test Halo ini sperma dengan kerusakan DNA yang ringan akan terlihat dan dapat dibedakan dengan sperma yang memiliki DNA yang sempurna. Sperma dengan DNA yang sempurna akan terlihat memiliki cincin dikepala spermanya.

Jadi, sebaiknya Halo sperm test ini dilakukan untuk memilih sperma untuk program bayi tabung dan inseminasi. Sehingga, kita benar-benar yakin sperma yang digunakan adalah sperma yang sempurna — baik secara fisik, pergerakan dan DNA.

Si Buah Hati Tak Kunjung Datang, Salah Siapa?

Memiliki anak merupakan dambaan setiap keluarga di dunia termasuk di Indonesia. Budaya Indonesia yang sangat kental dengan sistem kekeluaragaan mengakibatkan hadirnya si buah hati ditengah keluarga merupakan hal yang “Wajib”, tidak hanya sekadar keinginan dari suami dan istri tapi juga seluruh keluarga besar seperti orang tua yang menginginkan cucu, adik yang menginginkan keponakan, dan saudara yang menginginkan sepupu.Secara tidak langsung, hal tersebut memberikan tekanan tersendiri kepada pasangan yang baru menikah untuk segera memiliki anak. Tekanan ini bertambah besar ketika melihat teman-teman sebaya yang sudah memiliki anak.

Salah satu pertanyaan besar yang sering timbul dalam pasangan suami istri ketika si buah hati tak kunjung datang adalah: Salah Siapa? apakah ada yang salah di istri atau di suami. Sebenarnya tidak ada yang salah, hanya saja ada beberapa faktor yang menghambat hadirnya si buah hati. Ada 2 faktor yang sangat berperan yaitu faktor psikologis dan faktor medis.

Faktor Psikologis
Yang termasuk dalam faktor psikologis ini adalah kesiapan mental dari pasangan untuk memiliki anak. Memiliki anak membutuhkan kesiapan mental sebagai orang tua. Apakah kita siap untuk memikul tanggun jawab untuk menjadi orang tua? Apakah kita siap untuk mendidik anak? Apakah kita siap untuk bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Apakah kita siap untuk mengurangi hobi bersepeda atau pergi ke salon untuk mengurusi anak?
Jika untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tesebut masih berat dan belum mantap, maka dapat dikatakan kita belum siap untuk memiliki anak. Dan ketika hati kita merasa belum siap maka mungkin karena itulah Tuhan belum menitipkan anak kepada kita — karena Tuhan tahu yang terbaik buat hambanya.

Faktor Medis
Faktor medis ini menyangkut kondisi kesehatan reproduksi baik istri maupun suami. Suami dan istri keduanya memiliki peran yang sama dalam reproduksi. Penelitian menyebutkan pasangang yang infertil, 40% disebabkan oleh faktor suami, 40% disebabkan oleh faktor Istri, dan 20% lagi masih unexplained. Sering kali pihak suami memiliki ego untuk membebankan permasalahan ini kepada istri — karena istri yang lebih berperan (mengandung dan melahirkan). Padahal sebenarnya tidak demikian.

Ketika setelah setahun menikah dan tidak ada rencana untuk menunda dan ternyata belum memiliki anak maka sebaiknya suami dan istri melakukan pemeriksaan secara paralel. Suami dengan Andrologi dan Istri dengan dokter kandungan, sehingga permasalahan dapat segera ditemukan dan dicarikan solusinya.

Menjalani pengobatan infertilitas membutuhkan kesabaran, keterbukaan dan kerja sama antara istri dan suami, dan yang paling penting adalah tidak boleh saling menyalahkan.

Jadi, bukan salah siapa-siapa ketika si buah hati tak kunjung datang. Tetap berdoa, berusaha, siapkan mental untuk jadi orang tua, segera berobat, dan saling support.

Sperma seperti apa yang bisa membuahi?

Untuk mendapatkan kehamilan, suami dan istri (kedua-duanya) harus berada dalam kondisi baik. Kehamilan akan sulit terjadi jika salah satu tidak dalam kondisi prima. Untuk suami, yang paling menentukan adalah faktor kondisi sperma saat membuahi. Ada baiknya seorang laki-laki mengetahui kualitas spermanya sedini mungkin dengan melakukan test analisa sperma.

Berikut merupakan syarat-syarat sperma untuk dapat membuahi:
1. Secara anatomi (bentuk fisik) sperma memiliki bentuk yang normal dan lengkap — harus terdiri dari satu kepala, leher, dan satu ekor. Sperma yang abnormal dapat memiliki dua kepala dan satu ekor, atau sebaliknya.
2. Bergerak sendiri secara lurus dengan kecepatan berkisar antara +/- 20 micrometer/detik
3. Mempunyai masa hidup berkisar 2 – 3 X 24 Jam
4. Mampu bermigrasi ke cairan tubuh wanita

Untuk mendapatkan kualitas sperma seperti diatas, ada beberapa hal yang harus dilakukan:
1. Menghindari alat kelamin dari paparan suhu diatas 35 – 36 degC
2. Menghindari memakai celana terlalu ketat karena celana ketat memilki ruang yang sempit untuk memungkinkan pertukaran panas yang terjadi karena kegiatan
3. Menghindari mandi dengan air hangat, sauna, dan demam yang berkepanjangan (segera berobat jika demam terlalu tinggi)
4. Menghindari makanan yang bergetah dan pahit serta makanan yang dapat meransang hormon prolaktin seperti daun pepaya, terong, daun katuk, pare, oyong, habatussaudah, dll
5. Menghindari merokok dan paparan asap rokok
6. Menghindari makanan berkolesterol tinggi dan lemak sepert udang, cumi, jeroan, dan santan
7. Memperbanyak konsumsi protein sepert ikan laut seperti salmon, tuna, kakap, dll
8. Menghindari stress berlebihan
9. Berolah raga secara teratur and istirahat yang cukup

Jika telah melakukan langkah-langkah diatas dan ternyata kualitas sperma juga masih tidak baik, maka patut diduga ada masalah lain yang menggangu seperti gangguan hormonal, infeksi dimasa kecil yang merusak testis atau membuat sumbatan disaluran sperma. Sebaiknya langsung dikonsultasikan ke Dokter spesialis Andrologi.

Evolusi Dunia Medis — dari spritual ke scientific

Peradaban manusia telah mengenal dunia medis sejak berabad-abad yang lalu. Bila kita rangkum dari evolousi dunia medis, maka evolusi ini dapat kita kelompokkan menjadi 3 era yang besar. Era spritual, era lingkungan dan era tubuh.

1. Era Spritual
Ini merupakan era yang paling tua dari evolusi dunia medis. Pada era ini, manusia memiliki pemahaman bahwa ketika seseorang sakit, itu merupakan sebuah hukuman dari Tuhan — tidak ada sebab lain. Ini dapat dilihat dari sejarah Yunani kuno. Zaman Yunani kuno ada Dewa obat yang disebut dengan Asclepius. Pada zaman tersebut, orang-orang menyembah Dewa ini dengan tujuan supaya Dewa senang sehingga tidak mendatangkan penyakit.

Pada era spiritual ini, diagnosis terhadap suatu penyakit juga dipengaruhi oleh astrology atau zodiak. Misalnya seseorang berzodiak Virgo tidak boleh datang ke laut karena bisa mengakibatkan yang bersangkutan jatuh sakit.

2. Era Lingkungan
Dengan berkembangnya peradaban, manusia mulai berpikir untuk mencari penyebab lain dari penyakit. Pada era ini manusia berpikir mungkin lingkungan yang menjadi penyebab seseorang jatuh sakit. Misalnya, seseorang jatuh sakit setelah mengunjungi sebuah gua, maka jadilah gua itu sebagai sumber penyakit — dan orang-orang dilarang untuk mendekati gua tersebut.

Contoh lain adalah ketika sesorang jatuh sakit setelah memakan daun-daun dari pohon tertentu. Akhirnya mereke pada era tersebut berpikiran bahwa pohon tersebut sebagai sumber penyakit.

3. Era tubuh
Era ini merupakn era yang lebih scientific. Era ini dimulai ketika Hippocrates mengeluarkan humoral theory ( yang menyatakan tubuh manusia terdiri dari 5 unsur yang harus seimbang, jika tidak seimbang maka manusia akan jatuh sakit). Pada era ini juga, manusia mulai mengerti dengan anatomi tubuh manusia dan organ yang diserang ketika sakit.

Salah satu evolosi yang sangat besar pada zaman ini adalah mulai terkuaknya sistem imun manusia dan mulai dimengertinya konsep sel. Pengetahuan tentang sistem imun ini banyak merubah sistem pengobatan penyakit. Yan dulunya hanya bersifat kimiawi, mekanis (operasi) menuju ke arah penggunaan material biologi atau yang lebih dikenal dengan terapi sel.

Bila kita cermati, perkembangan dunia medis semakin spesifik. Mulai dari tingkat spritual, lingkungan, sampai kepada organ, bagian dari organ hingga ke bagian terkecil yaitu sel. Sehingga, banyak ahli kedokteran dan biologi yang memprediksi kedepanya pengobatan yang dilakukan adalah pengobatan ditingkat sel.

Halo-sperm test

Apa itu Halo-sperm test?
Test yang bertujuan untuk mendeteksi adanya fragmentasi DNA pada kepala spermatozoa. Yang menyebabkan spermatozoa tidak mampu membuahi atau zigot yang dihasilkan tidak baik

Apa manfaat atau fungsi dari Halo-sperm test?
1. Mengetahui penyebab infertilitas yang tergolong (unexplained Infertility)
2. Mengurangi kegagalan AIH
3. Mengurangi Kegagalan IVF

Kapan Halo-sperm mesti dilakukan?
Pada kasus infertilitas yang disebabkan oleh suami tetapi hasil analisa sperma relatif Normal tetapi pembuahan tidak terjadi dan diduga hal tersebut disebabkan oleh faktor sperma